12
Feb
09

sekumpulan kata hati dari syehan alkaff is the best my friend…

Dimensi Nyata namun Hampa

hari ini warna pelangi tak kian berubah juga, mendung masih kukuh diatas kepala ini sepertinya hujan kan datang sore hari menjelang gelap.

dan ternyata keputusan itu harus aku kukuhkan seperti mendung itu, membawaku dalam ketelanjangan dalam arti tak sebenarnya, membiarkan sekian depa aku tersungkur kebelakang.

tapi itu adalah pilihanku dan aku lega karena itu adalah ketegasanku pada hidup ku, sekali lagi ini adalah duniaku, bukan dunia mu ataupun siapa saja yang mencoba mencuilkan kehidupannya pada diriku.

setidaknya aku bisa menikmati keluasan alam bebas….untuk sementara waktu.

seperti mimpi di senja hitam, aku tersentak, lalu terbangun…….ternyata waktu telah berubah, tapi mendung tetap berwarna hitam.

aku terdiam menyingkirkan tubuh ini disudut paling sudut diantara temaram cahaya yang aku balut dengan kain hitam.

tubuhku menggigil, otakku terasa beku, sekujur persendian ini terasa kaku…dan aku tak dapat membayangkan lagi seperti apa bentuknya dan bagaimana caranya.

seharian itu aku biarkan tubuhku diterbangkan angin, diselimuti debu2 kota, diteriaki cerobong2 asap kendaraan.

seharian itu ketemukan tubuhku di mana-mana, sepandangan mata aku lihat tubuhku di gerbong2 kereta, ketika aku melihat lagi tubuhku telah melaju bersama bus kota, ada juga aku lihat tubuhku diantara sesak2 orang berjalan, terlihat juga di kamar2 tak berwarna, pernah juga aku lihat di pinggiran sungai yang keruh, di trotoar jalanan, diantara para pengamen, diantara para pengemis. hari itu ku biarkan raga ini mengembara mengikuti kaki melangkah…….sampai gelap datang dan aku lelah atas pengembaraanku.

langit masih mendung, tapi aku melihat dari jendela itu bulan ternyata telah purnama…..

sepertinya aku telah lupa menghitung kapan datangnya purnama.

malam itu dari balik jendela itu, aku biarkan tubuh ini diterkam bulan yang purnama, di cabik2, di ejek2, di teriakan.

sepertinya purnama itu tak lagi ingat padaku, tak lagi ingat ketika kami bercakap2 di teras itu, tak lagi ingat waktu aku melukiskan wajahnya di kala sabit, tak lagi ingat ketika aku temani dia hinga purnama pelan2 berubah.

biarlah purnama itu melupakanku, biarlah aku berjalan pada dimensi waktuku, biarlah aku mengarungi kehidupan ini, dan menjadi seperti apa yang akan terjadi, tanpa harus di paksakan untuk menjadi ini dan ini, tanpa harus di ejakan ini dan itu, dan tak lagi di kekang akan arti kebebasan.

malam itu aku tak lagi mengenali wajahku sendiri, aku berjalan pada dimensi nyata, tapi jiwaku melayang pada rung hampa.

 

hilang di balik purnama wajahmu

Rasa sakit yang terasa semakin sakit teriris, rasa ini menjenuhkan, memuakkan, kadang juga menyenangkan.

hari ini hari minggu tapi terasa seperti hari senin, membosankan.

aku lupa menuliskan puisi cinta, aku lupa mencium tangan bunda, aku lupa dan melupakan.

setengah gila kah aku, bila ini adalah perjalanan waktu biarlah ku gapai rembulan dan bintang.

awan berarak-arak mengikutiku dari arah timur, satu persatu kisah terjalani terlewati datang dan pergi, satu persatu kisah menghantui, menenggelamkan, membahagiakan, membuat ku semakin merindukan rembulan yang tak pernah berbentuk seperti wajah dia yang jauh disana.

ada kalanya kesempatan hanya datang sebagai dewa-dewi khayangan, datang menghilang, tenggelam, muncul lagi.

seperti itulah rasa yang tersa sangat tak pasti.

ini adalah kata2 yang terbentuk dari kegalauan, kericuhan, kerinduan.

tapi aku tak bisa membuat ini indah, hanya dia yang indah, rembulan sebentuk wajahmu yang jauh disana.

 

jakarta, awan membiru

Sebenarnyalah semuanya hanya sandiwara yang di mainkan oleh seorang dalang. siapakah dalangnya…..?

dalangnya adalah diri kita sendiri. bagaimana kita akan memainkan lakon yang ada, bagaimana kita akan mempersembahkan sebuah ceritra yang enak di lihat, ataupun juga tak sedap untuk dilihat.

kita hanya dalang yang di kendalikan oleh satu pusaran. dan pusarannya adalah ada di kuasa Tuhan semesta jagad.

Aku lelah membaca beragam dogma kehidupan, aku lelah disudutkan, tersudutkan ataupun menyudutkan. harapku adalah sebuah kenyataan membuat semuanya bahagia, membuat seseorang yang singgah di hati  bahagia, memberikan keiklasan hati.

mengapa aku merindukan kota gudeg itu, merindukan pada risau camar2 yang dulu pernah menghinggapi sebuah makna. merindukan sesosok mata berkilau harap cemas di depan pusat kota sebuah tempat keramaian.

 

merindukan pada sesorot mata berkilau itu, dia adalah terindah, terindah, yang sempat terjamah namun tak sempat dipetik.adalah kau mengapa aku merindukan kekicauan burung camar dimalam hari itu.

 

tapi sekarang kerinduan itu harus ku  balut dengan selimut hangat pada sesorot mata yang begitu berkilau. pada secercah hati yang mencuri sepenuhnya hatiku, pada malam disaat kau dendangkan sebuah tembang. pada janji kita walau lirih namun bermakna.

 

padamu sebuah makna, aku berjanji untuk tetap menjagamu, walau sekian waktu nanti tak lagi mengenalkan pada kita apa itu kasih sayang.

 

tapi aku bangga mendapatkan hatimu, walau kita jalani dengan terseok, terbata2, teraliri airmata, tapi aku bangga karena itu adalah awal perjuangan kita.

 

dikota ini perlahan aku takut untuk pergi meninggalkanmu, dikota ini yang penuh dengan segenap ragam kerlap-kerlip aku berusaha menguatkan hatimu, pada sesosok ragaku dan hatiku.

jakarta selimuti aku dan dia dengan tembang2 indahmu disaat kami terlelap dan terjaga.

 

symbol bungkus cabe rawit

bila nanti waktunya datang, sekujur tubuh ini telah tertutup rapat kain kapan, bila nanti waktunya tiba tubuh ini tersiramkan air kembang, dibacakan mantra2 doa…….

bila nanti saatnya tiba, suara kasih sayang menjemputku, membawaku entah kesurga atau neraka. itulah namanya……

dan bila saatnya telah tiba, tiada yang dapat menolaknya apalagi menghadangnya….hanya kepasrahan dan keiklasan……dalam hati sanubari.

 

kemarilah kemuning yang menguning disaat lelah kaki melangkah, disaat gontai raga menopang, disaat jiwa hendak lepas karena sarat dengan gundah…….disitulah makna berkata “kau bukan segala-galanya, tapi kau adalah segala-galanya” kata-demi kata terbalik-balik, makna demi makna takter_artikan, manusia berpulang ketanah basah wewangian akan surga menciut, menjauh, pudar lalu hilang.

langkah gontai anak adah dan hawa terseret2 dalam kedukaan….ketika tak adalagi sebuah ucap yang menyuburkan rindangnya kemuning yang menguning.

itulah sajak terakhir yang ku bacakan dikala usiaku tak lagi ranum, ketika suaraku telah tersumbat beragam dogma.

syair terlahir, syair mati, kata-demi kata hilang diretaknya mala dan aku…..dan aku hanya bisa mendengar lirih sajak ku di bacakan oleh ribuan nanar suara yang miris.

 

hatiku bertambah lunglai, jiwaku telah senja, dan aku mengejar serpihan matahari.

awas ada perang di laut merah, dan indonesia merajut bedil-bedil tak bersuara…….astaga naga…..ada yang mati terkena bedil tak bersuara, ada yang hancur lebur jadilah kemerdekaan….tapi bukan merdeka, bukan merdeka seutuhnya…ketika kita berkata retorika…dan logika tak lagi di abaikan apakah arti kemerdekaan itu. bila sebuah saja hanya sebagai pelengkap kata sastra.

 

dan mungkin kain kapan itu takkan pernah berfungsi lagi sebagai kapan, tapi sebaliknya

aku berjalan lunglai ketika sajakku hanya dibacakan pada hari kemerdekaan, sementara aku belum merasa merdeka dari apa-apa.

 

BIMBANG

Derap langkah ini seiring waktu

Sepenggal kata yang menanti ditepian kasih

Mengigau dalam sebuah kenangan, panggil aku!

Dalam detik-detik yang tak ingin berlalu

Namun mengikis hati yang mencintai dalam sepi

 

Aku yang tersingkir oleh keadaan

Akankah bangkit dengan kebisuanmu

Bersama sepenggal kasih yang mencintaimu

Hati ini terasing walau tatapanmu menjanjikan

Hah… aku jadi bimbang…

 

Kini asap tebal menghalau pandangan

Walau kaca terseka oleh cucuran air mata

Dalam kalbu yang masih ingin termenung

Menanti sebuah jawaban dari bibir indahmu

Dan berkata, kaulah milikku!

 

Kemudian ruas-ruas jalan itu kembali kuselusuri

Saat maret lalu kau yang telah menggetarkanku

Panduan isyarat hati telah menenggelamkan

Namun aku masih terapung oleh sebuah bisikan

Datanglah… kau selalu dihatiku…

 

Dengan merangkai sejuta kenangan indah itu

Ku coba untuk membersihkan kerikil tajam

Dan bersimpuh diatas tirai kesucian hati

Hingga kau menjadi milikku seutuhnya

Bukan hanya sesaat tetapi hingga keakhirat

 

 

 

BUKAN TUK MENYAKITIMU

 

Perjalanan ini telah melumpuhkan hatiku

Sulit tuk tergantikan namun sukar tuk katakan

Kau dekat namun sulit kugapai dan kudekap

Oleh manja suaramu terdengar lirih ditelingaku

 

Bisikmu menggamit rasa riuh menyentuh Iman

Namamu menyentuh dihati berpijak diatas sejadah

Kau sebut aku apa… ku panggil kau apa…

Hanya diam terdetak dalam sebuah renungan…

 

Aku rindu namun hanya mengenangmu kini

Kuberikan kau harapan kemudian ku menghilang

Seiring angin dalam tidurmu panggil namaku

Dan aku hanya termangu sambil mendekap bayangmu

 

Aku mencintaimu namun aku tak ingin menyakitimu

Aku menjauh bukan aku tak merindukanmu

Aku pergi namun bukan tuk melupakanmu

Aku hanya meluputkan sebuah dosa…

Bukan tuk menyakitimu…

 

 

 

MENANTI DETIK-DETIK PERJUMPAAN

 

Menanti detik-detik perjumpaan

Pada sebuah bingkai kemesraan abadi

Atau hanya sebuah titipan kisah yang berganti

Yang membisu dibalik sebuah tulisan

 

Fikiran itu telah terhapus oleh debu berserakan

Diam bukan tiada mengandung arti

Itulah samudra yang membentangkan jiwa

Dibalik keindahannya yang menghanyutkan kalbu

 

Terbuailah disisiku walau kau belum mengerti

Namun kau kan memahami saat kau menangis

Merasakan jeritan hati ini yang terpendam

Yang ingin menggapai hatimu…

Mendekapmu dengan penuh cinta…

 

Menanti detik-detik perjumpaan

Hanya untuk sesaat atau untuk dipererat

Menjemput cinta dalam pesona abadi

Di dunia hingga ke akhirat…

 

=======================================

 

SEPENGGAL KISAH YANG HILANG

 

Waktu itu… Di saat kedatangan bertahta

Langkah terhenti surutkan hasrat pengembaraan

Dengan duduk menyamping dari sudut perhatianku

Gapai angin bawa aku kehatimu hinggap dan menetap

 

Semua tlah kuterka dan kusampaikan lewat tanganku

Sebingkai kata dalam kericuhan menyelusuri kenangan

Sepenggal harapan diujung waktu yang berdetik

Pada malam yang tak ingin kutinggalkan

 

Kemudian waktu membuat semuanya pudar

Sudut pandangannya membeku dan hilang

Langkah ntah tertuju kemana dalam kebimbangan

Pergikah tuk menghindar dengan firikan tak ingin berlalu

 

Semuanya tlah kembali seperti semula

Menyendiri tanpa berkata dibalik renungan

Hati yang suci tak ingin ternodai oleh tangisnya

Adakah atau bersembunyi di balik lentera senja

Hingga hatimu tlah tertutup untukku

 

Namun pada malam kembali melantunkan kisah

Panggil aku! Tetapi mungkin itu hanya menghitung harapan

Dari seseorang yang kuhormati bukan seorang yang ku kasihi

Hanya maaf berlalu tanpa ada pesan, kemudian sirna

 

Kini senja mulai menutupi terang…

Akankah ada sebuah pertemuan kembali…

Untuk menjelang sebuah pertalian yang abadi…

Menghitung waktu semalam, sepenggal kisah yang hilang…

 

SEBUAH KEINDAHAN

 

Saat malam semakin dingin

Adakah keheningan itu membawa keindahan…

Dalam sebuah renungan…?

Walau berkata hanya didalam hati

Namun ingin menjemput kebisuan itu

 

Saat malam semakin larut

Adakah jiwa untuk berfikir tentang cinta…

Dalam sebuah penantian…?

Walau dengan makna yang sulit dimengerti

Namun hati ingin menggapai sebuah keindahan

 

Saat jiwa meronta meresapi kesunyian

Janji itu semakin berkabut dibawah tetes hujan

Bersama kenangan yang terasingkan

Adalah sebuah keindahan dengan mengenalmu

Lewat sebuah tatapan penuh harapan

 

Saat kisah ini terlewati

Berlalukah seperti malam bersama lirik

Dari tetes hujan dengan sebuah keindahan

 

AKU MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

 

Aku mencintaimu dengan sederhana seperti sungai pada hujan

Seperti bunga pada kupu-kupu, seperti laut pada daratan

 

Aku mencintaimu dengan sederhana bukan dengan bujuk rayu

Bukan dengan penyaluran hasrat atau pelampiasan nafsu

Walau aku tak menampik semua itu…

 

Aku mencintaimu dengan sederhana

Dengan sentuhan, belaian, kecupan, bukan dengan bercumbuan

Bukan dengan ciuman penuh gairah

Namun dengan kasih tulus dan suci…

Indah…lebih indah dari yang pernah kau bayangkan

 

Aku mencintaimu dengan sederhana

Tidak meletup laksana api namun mengalir seperti air

Tenang…dalam…menghanyutkan

 

Aku mencintaimu dengan sederhana

Walau harus kuterjang badai, kuhadang gelombang

Hingga tiba di tepian tak bertuan

 

Aku mencintaimu dengan sederhana

Entah kau sadari atau tidak

 

AKU BERLALU DENGAN SEJUTA TANYA

 

Tak ada niatku tuk berjumpa denganmu saat itu

Namun langkahku seakan kau tuntun kearahmu

Bukan karna bumi bergeser ataupun bergoncang

Namun jantungku berdegup kencang, kala itu

 

Kemudian berlarilah engakau dengan sejuta senyummu

Saat aku mulai menghampirimu, mencoba mendekatimu

Namun kau menjauh dari sudut pandanganku

Yang membuat langkahku menjadi gontai

 

Aku bimbang, aku menjadi ragu…

Timbul berjuta pertanyaan yang menghampiriku

Burukkah ini?…atau aku yang terlalu kepadamu…?

Semua pertanyaan itu sukar kujawab

 

Lalu kudengar lontaran kata, namun bukan darimu

Cuaca yang dingin membuat tubuhku kepanasan

Udara yang sejuk membuat tubuhku berkeringat

Jiwa yang seakan tenang sukar terkendali

 

Dibalik lontaran kata itu

Aku bertanya tentang dirimu

Namun tak ada jawaban, hanya diam

Tiada kata pembuka malam itu

Dan aku berlalu dengan sejuta tanya, Kenapa…?

 

Matahari yang Mrindukan Bulan

 

Ku memandang langit, ku lihat rembulan bersinar indah

Telah kutemui banyak rembulan yang indah,

tetapi itu bukan kau.

Ku lihat matahari berseri indah di ufuk pagi,

sinarnya menusuk relung-relung hati.

Aku merindukanmu…. bagaikan matahari merindukan bunga di pagi hari

Bagai musafir yang berjalan tanpa tujuan,

aku tersesat di alam kerinduan.

Semakin kuselami terasa kian tak bertepi.

Harapan…., yang membuatku bertahan…

bagai ksatria berkudakan kerinduan,

Hatiku adalah kesabaran,

senjataku keyakinan akan perjumpaan.

Begitulah sang matahari yang gagah

Merindukan bulan yang selalu penuh dengan keindahan

 

 

CINTA SEBAGAI PUISI

Aku tahu semua ini berawal tanpa di duga

Dan ku ingin semua ini takkan ada akhirnya

Namun walau semua ini kan berakhir

Ku ingin semua ini berakhir dengan kata-kata yang indah

 

Jadikanlah semua itu sebagai puisi

Yang selalu dapat mengingatkanku pada dirimu

Namun walau berbagai kata tlah kutuliskan untukmu

Aku tahu, bahwa…

Catatan inipun bisa hilang seiring waktu

Tetapi semua ini terlebih dahulu tlah kutulisakan dihatiku

Dan selamanya puisi itu takkan pernah hilang

Begitu juga perasaanku terhadapmu

Selamanya kan tetap abadi…selamanya…

 

 

Hati Yang Diuji

 

Hati ini kembali gelisah

hanyut bersama malam yang hampa

Tampak sinar yang tertunduk diam

Yang membasahi bumi dan menyurutkan langkah

 

Bertubi-tubi langkah itu di uji

Akankah masih ada hari esok

Aku tak bisa menjawabnya

Ataukah takdir yang datang bercanda

Akupun tak paham

 

Saat ku menatap dikeheningan malam

Jiwaku menatap penantianmu, Benarkah…?

Saat aku yakin, jujurkah pertanda itu

Untuk menetap atau hanya sekedar kemudian berlalu

 

Saat aku gelisah puisi ini terus bertanya

Saat jiwa meronta pena ini terus mengalir

Namun alirannya tak mampu menghentikan hujan

Dan semak belukar menyembunyikan deraiannya

 

Bertubi-tubi langkah itu diuji

Pada malam yang enggan tuk diredupkan

Kemudian ku berkata dalam diam

Salahkah aku bila mencintai…?

Dosakah bila aku merindukannya…?

MENERKA SEBUAH SENYUMAN

 

Meresap angan dibalik dinding yang sepi

Coba mengecup sanubari pada sekeping hati

Mendaur arti ucapan dibalik sebuah ekspresi

Dalam mengisi kekosongan hati yang berliku

 

Dalam lamunan bersama angan yang misteri

Berselubung tanda tanya, apa dan bilakah…

Sekeping hati itu yang begitu sukar tuk ku terka…

Sekeping hati ataukah hanya sekedar senyuman…

 

Aku mencoba bertanya sendiri…

Namun aku hanya dapat terdiam…

Seiring diam, aku berdoa kemudian berfikir…

Hingga fikiran itu berubah menjadi lamunan

 

Dalam lamunan ku coba merangkai butiran kata itu

Dari pengembaraan yang ingin ku menetap…

Dari hatiku yang ingin memasuki hatimu…

Ingin ku rangkai kehidupanku bersama dirimu…

Namun apakah semua itu dapat kau terima…?

 

Meresap angan seiring tanda tanya

Aku hanya mampu terdiam dan kembali terdiam

Kemudian…kubalikkan kata itu pada dinding yang sepi

Lengang…kembali tiada jawaban

 

Wahai sekeping hati…

Wahai sebuah senyuman…

Apa makna dibalik itu semua…

Diamkah atau tak ingin bicara…

Jujurkah atau hanya sebuah keraguan…

 

Lagi-lagi kembali ku tertunduk diam

Hanya dinding kamar ini sebagai saksi bisuku…

Yang berbalik kemata air, mengalir tenang…

Bersama sejadah kecilku…

Agar dibukakan pintu hatimu…

Wahai sekeping hati yang ingin ku miliki

 

 

Cinta Adalah Cobaan

 

Tanya itu semakin merebak dalam diding yang sepi

kalbuku semakin memberonta dan bertanya, Sanggupkah…?

Sanggupkan aku menghitung penggalan kisah ini…?

Dalam balutan kisah kasihku

 

Saat paradigma dunia menawarkan keindahan

Aku menemukanmu dengan jiwa yang tenang

Walaupun aku belum begitu mengenalmu

Seakan kau telah menjadi milikku

 

Saat kusadari cinta telah menghampiri hatiku

Kemudian ku bertanya pada diri ini

Apakah kau datang untuk menetap atau hanya sepintas lalu

Namun aku menjawabnya dengan keindahan

Tetapi keindahan itulah yang mencipta kegelisahan ini

Kenapa…?

 

Kini desir-desir mimpi itu telah berubah

Kegelisahan menawarkan sebuah kebodohan

Dan cinta berkata inilah cobaan

Pada hati yang inginkan berjalan dengan ikhlas

 

Saat ku memahami, sanggupkan ku menjalaninya…?

Aku tak tahu, namun ku masih mencobanya

Namun bukannya lari dari kenyataan

Sebab ku tahu cinta adalah cobaan

Dan ini bukanlah sebuah kepastian

 

 

 

 

Uraian Jiwa

 

Sesungguhnya kata2 itu bukan hal yang sulit

Jika hati mampu merespinya…

Kenyataan itu takkan enggan diuraikan

Maka maknanya dapat dipahami

 

Jika kegelisahan ini mampu dirasakan

Tentu suara kan berkicau dengan merdunya

Anginpun kan menjadi desah nafas yang indah

Senyumanpun kan terlihat dengan keikhlasan

 

Waktu yang berlalu takkan pernah kosong

Kedewasaan hinggap dalam kalbu

Meresap angan bersama hati yang mengerti

Tak lagi membisu namun berkata dengan pesona

 

Kini, tlah banyak yang kulihat…

Tlah banyak yang kualami…

Tlah banyak yang dirasakan…

Aku lelah, aku ingin singgah…

Aku ingin menetap disuatu tempat…

Aku ingin berlabuh dihatimu…

 

Catatan ini masih tetap membisu

Akankah tertutup sebelum sempat terbaca…?

Sebab kenyataan masih enggan diuraikan

Dari jiwa yang renggang dari kepastian

 

MERAJAI KEINDAHAN

 

Berjalanlah sepenggal kata yang merajai sepi

Pada malam yang terpecahkan oleh senyuman

Dibalik tatapan yang berkaca, menggetarkan jiwa

Namun masih tertahan tuk menunggu saat yang tepat

 

Kini, Raja kesepian telah bangkit dari tidurnya

Nafaspun menderu seiring waktu yang berdetak

Walau bibir masih setengah terkunci

Namun coba merasuki jiwanya

 

Malam yang menawarkan keindahan

Coba mengabadikan dalam sebuah ungkapan

Menyeka debu-debu ditaman istananya

Tuk jalan pada hati yang menyukai menjadi cinta

Segumpal jiwa yang merajai sepi

Mudah menyukai namun sukar mencintai

Namun saat cinta itu singgah, sukar tuk dilupakan

Maka bertenggerlah ia di setangkai dahan

Untuk merajai keindahan

HANYA DIRIMU

 

Termenung dalam diam

Merebakkan di angan

Lewat tatapan penuh kan cobaan

Ingin merasakan gejolak dihatimu

Di tetes embun sambut pagi menjelang

 

Merebak direncana

Tuk membuka hatimu

Lewat butiran kata hatiku

Ingin ku miliki, ingin kuhiasi

Dirimu dengan tulus cintaku

 

Bilakah malam ini yang merajai sepi

Kan bersinar mewarnai cinta

Bilakah hatimu kasih terbuka untukku

Dengan janji untuk selalu setia

 

Bilakah semua ini dapat kau mengerti

Dalam mimpi yang menjadi nyata

Bilakah rindu ini kau jawab dengan cinta

Karna ku ingin hanya denganmu

 

 

 

AIR MATA KEINSAFAN

 

Saat kekosongan mampu melelapkan dalam mimpi

Derainya membasahi bumi kemudian kaku

Dan jantung pun seakan berhenti berdegup

Bahkan selimut pun tak mampu menyeka air matanya

 

Saat dingin merasuki hingga ketulang belulang

Terlihat seberkas sinar dalam senyum yang kaku

Isak tangisnya semakin laju, semakin memuncak

Pada hati yang menciptakan sebuah keraguan

 

Sepintas terlihat, semua begitu menjanjikan

Namun keinsafan daun luruh berkata lain

Ingat, sebuah keindahan sejati yang pernah kau dapatkan

Saat tubuh bergetar, saat jiwa menyesal dengan bersujud

 

Saat ini cinta masih berada dibawah selimut tidurmu

Inilah cobaan bukanlah sebuah kepastian

 

Saat dalam renunganku, seraya berdoa…

Benarkah air mata keinsafan itu yang datang…

Hingga ku terlelap dalam sebuah renungan…

Untuk meninggalkannya dengan sebuah kenangan…

 

Saat langkah itu membawa kepastian

Air mata keraguan mungkin takkan ada lagi

Keinsafan daun luruh akan membawa keindahan

Dan pertemuan itu akan terjadi dengan kebagiaan

 

Seiring waktu berjalan bersama air mata keinsafan

Dengan cinta menjelang sebuah pertemuan

 

ANTARA DUA SISI

 

Bangunkan aku disaat fajar menjemput malam

Sentuh hatiku dengan tetes-tetes embun kesejukan

Iringi langkahku dengan cahaya berpayung Iman

Titipkan aku pada sebuah dermaga bertajuk kepastian

 

Antara dua sisi yang beserakan debu fikiran

Dua sisi yang Engkau anugrahkan atas cintaMu

Aku yang terpenjara oleh keraguan yang menyepikanku

Bersama cintanya untuk menjadi pendampingku

 

Ya Allah… Ya Rahman… Ya Rohim…

Berlakukah hukumMu dalam dua sisi ini…?

Antara cintanya dan kasih yang Engkau anugrahkan

Mengenang kisah saat engkau menyentuh kalbuku

Untuk bersujud hanya kepadaMu… Ya Allah…

 

Antara dua sisi yang inginkan surgaMu

Lelapkan kembali disaat malam semakin larut

Dengan gemintang menjadi selimutku

Temaran rembulan menjadi bantal penyanggahku

Dan kasihMu menjadi penerang dalam Imanku

 

MENCARI SEBUAH KATA

 

Saat aku mencoba untuk kembali menulis

Kata-kata itu hilang dari genggamanku

Pena ini ingin menangis namun kaku oleh keadaan

Kucari dalam keramaian namun tak kutemukan

 

Saat aku mencoba untuk mengingatnya kembali

Kata-kata itu enggan untuk dihampiri

Namun ia bersembunyi dibalik sekeping hati

Segera ingin kuambil namun terkunci oleh senyuman

 

Tetapi ia bersedia datang dengan sebuah perwakilan

Namun, apakah perwakilan itu datang dari hatinya…?

Pena ini mencoba menelusuri walau tanpa dengan kata

Kemudian tertunduk diam mencoba mendaur kisah

 

Waktu yang terus berdetik mencari sebuah kata

Menjerit namun hilang terbawa debu yang beterbangan

Benarkah ia datang dengan perwakilan hatinya…?

Yang tersungkur dalam diam pada tinta yang menjadi kaku

 

Waktu yang terus berdetak menuai sebuah kata

Datangkah untuk mengartikan sebuah bingkisan

Dengan harapan yang hampir didapatkan

Oleh tinta yang mencatatkan sebuah keinginan

 

Dalam mencari sebuah kata…

Kata cinta yang ingin dilantunkan…

 

TAK KUNJUNG TERURAI

 

Berjalanku kini dalam hening

Berfikir kian tak kunjung kutemukan

Sebuah jawaban hati yang masih buram

Menapak esok yang kian ku tak mengerti

Mencari butiran kata yang masih terenung

 

Cahaya itu kini semakin jauh

Perasaan itu kian menghilang

Ntah kenapa… Anganpun sulit berteman

Bersama serpihan kasih yang berserakan

Terbalut oleh teriknya mentari

 

Kini jiwa yang terbujur kaku

Terbuai pada kata yang memilukan

Walau masih melangkah namun tiada bersenandung

Hanya lirik yang terdenar tanpa melody

Mencari sesuatu yang hilang

 

Kini telinga hanya mampu mendengar

Namun hati tak mampu memorikannya lagi

Hanya sebuah pena, pena keabadian…

Yang masih mampu menguraikan kisah kehidupan ini

Pada kasih yang masih terbalut dalam kedaifaan

 

Sepasang mata hanya mampu melihat

Sepasang telingan hanya mampu mendengar

Sepasang tangan hanya mampu menggenggam

Sepasang kaki hanya mampu melangkah

Dan hati inipun masih sendiri

 

Semuanya hanya mampu demikian

Tak kunjung teruai menjadi nyata


1 Response to “sekumpulan kata hati dari syehan alkaff is the best my friend…”


  1. 1 irza
    February 12, 2009 at 7:25 am

    yang laen mana neh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: